Diskusi PB PMII: Mengembalikan Peran Strategis NU

Jakarta (GP Ansor Online): PB (Pengurus Besar) PMII telah menggelar diskusi dengan menghadirkan para kandidat Ketua Umum PB NU. Menurut ketua penyelenggara, Ihsanudin, diskusi ini sengaja dihelat untuk turut memeriahkan hajatan akbar, Muktamar NU ke 32 di Makassar pada 22-27/3/10 mendatang. “Setidaknya PB PMll ingin ikut serta memberi sumbangsih ide dan pemikiran tentang agenda-agenda besar di Muktamar, disamping juga ingin mengenal lebih jauh sosok calon pemimpin NU era mendatang”, ujarnya.

Hadir sebagai pembicara, Dr. KH. Andi Jamaro Dulung, M.Si, Drs. KH. Selamet Effendy Yusuf, M.Si, dan Dr. Ulil AbsharAbdallah, masing-masing sebagai kandidat Ketua Umum PBU, serta Dr. Laode Ida sebagai Narasumber pembanding. Para kandidat banyak bercerita tentang persoalan riil NU hari ini, serta visi ideal untuk memajukan NU. Andi Jamaro misalnya, mengungkap tentang bagaimana pentingnya mengembalikan peran strategis NU. “NU hari ini seperti kehilangan ruh perjuangan. Energinya banyak tersedot pada soal-soal plitik praktis. Maraknya pragmatisme politik ditingkat NU struktural membuat NU kehilangan peran stategisnya pada dimensi-dimensi keummatan yang lebih luas”, terang Andi.

Kandidat yang merupakan putra asli Sulawesi ini menambahkan, “Peran strategis NU harus dihadirkan untuk menjawab peroblematika riil keummatan, seperti pedidikan, kesehatan, serta ekonomi-kerakyatan, tentunya dengan spirit dan etos Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai manhaj dan pinsip Nahdliyah”.

Untuk visi intenal, Andi menekankan pada aspek penguatan kaderisasi NU, Pada titik inilah, Andi mendorong Pergerakan Mahasiswa lslam lndonesia untuk kembali menjadi bagian kelembagaan NU secara organisatoris. Hal ini dimaksudkan untuk menopang program kaderisasi, menjamin ketersediaan kader yang kapabel dibidang ilmu dan keterampilan, serta berakhlakul karimah, dalam pengertiannya yang luas.

Selain itu, Andi mengingatkan pentingnya konfigurasi yang seimbang dalam kepengurusan PB NU mendatang. Keseimbangan yang dimaksud adalah resresentasi keterwakilan daerah. NU adalah organisasi Nasional. Siapapun kader terbaiknya, tanpa melihat asal kedaerahan, asalkan memiliki kualifikasi yang tepat, tentunya layak dipilih menjadi pimpinan NU, “Pemimpin NU adalah sosok yang memiliki pemahaman ASWAJA yang utuh, kemampuan teknik managerial, serta jaringan (networking) yang luas, baik di dalam maupun luar negeri, tanpa mengidentikkan pimpinan NU dengan region tertentu. Ini yang harus menjadi kesadaran bersama dalam Muktamar NU di Makassar nanti”, tegasnya.

Sedangkan kandidat lain, Slamet Effendy Yusuf mengamini apa yang disampaikan oleh Bang Andi, demikian dia biasa disapa. Menurutnya, untuk mengembalikan peran strategis NU dibutuhkan pengelolaan yang menyeluruh terhadap potensi sumber daya NU yang berserakan. “Harus ada upaya sungguh-sungguh untuk memenej potensi-potensi itu secara tepat, sehingga bermanfaat bagi kebesaran umat dan organisasi ini. Selama ini terkesan tidak ada upaya nyata, bahkan tidak jarang sesama warga NU berkonflik secara tidak produktif, seperti yang sering diperlihatkan kader-kader politisi NU. Perbedaan wama semestinya menjadi rahmat, bukan malah laknat, yang justeru mengkerdilkan kebesaran NU sendiri”, tandasnya.

Oleh karenanya, Slamet mengusulkan agar Muktamar NU yang ke 32 nanti membahas acuan bagi revitalisasi peran Komisi Politik di PBNU. Tugas utama komisi ini adalah merumuskan garis besar visi politik NU serta aturan main yang harus ditaati oleh seluruh kader NU yang aktif di ranah politik prakis. Sehingga bila terjadi perbedaan pandangan, oleh Komisi Politik dapat difasilitasi dan diarahkan dalam kerangka kerjasama yang produktif. “Ini demi kemaslahatan semua warga NU, dan demi tujuan besar tadi, mengembalikan peran strategis NU”, tambah Slamet.

Di sisi lain, Ulil Abshar menitikberatkan pada keterbukaan NU dalam bergaul dengan tradisi di luar dirinya, dalam hal ini khazanah Pesantren, sebagai basis tradisi NU. Menurutnya keanekaragaman tradisi, dari manapun asalnya itu, justru memperkuat serta memperkaya eksplorasi khazanah yang selama ini dipegang teguh NU. Ulil mencontohkan, metode tafsir yang dibantu dengan pradigma lain dapat mempertajam analisa tentang problem nyata kehidupan umat, sehingga mampu merekomendasikan kebijakan yang lebih membawa kemaslahatan. “Liberalisme bukanlah sesuatu yang melunturkan tradisi, tapi justeru membantu tradisi itu untuk bicara lebih terbuka tentang eksistensi dirinya”, begitu menurut alumni Chicago University ini.

Sampai disini, semua kandidat sepertinya memiliki penekanan masing-masing dalam kerangka visi ideal mereka menatap NU masa depan. Namun, sebagaimana disampaikan Ihsanudin diawal, bahwa diskusi terbuka ini sebagai ajang melakukan inventarisasi permenungan menjelang muktamar. Beragam ide dan pemikiran menjadi bekal bagi para muktamirin, maupun warga NU pada umumnya. Karena pada akhirnya, masa depan NU berpulang pada semua warga Nahdliyyin tanpa terkecuali, dalam mengawal agenda perjuangan NU, dari pelosok desa hingga ke penjuru dunia. Semoga. (ihsan)